02 Maret 2018

PANTAI PANDAWA DENGAN SEJUTA CERITA


Bersyukur banget, pertengahan Februari tahun ini mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Pulau Dewata dalam rangka studi budaya. Pulau Bali dengan berbagai julukannya seperti Pulau dengan Seribu Pura, Magic Island, dan sebutan-sebutan yang lain memang merupakan sumber studi budaya yang tiada habisnya. Belum lagi berbagai destinasi wisatanya yang kan tiada habis untuk diexplore.

Beberapa tempat yang kami kunjungi antara lain Tari Barong, Produksi Pie Susu, Tanah Lot, Bedugul, Pantai Kuta dan Pantai Pandawa. Ke Bali kurang lengkap kalau nggak belanja belanji. So, bolehlah ngabisin duit sesekali di Joger, Dewata, Arjuna, Galuh, dan Krisna.

Seneng dooong... Ya iyalah, ke Bali gitu lhoo...
Maaf ya agak norak, dimaklumi (disenyumin) aja, baru dua kali ini bisa ke Bali.

Baca juga : LIBURAN DI BALI

Oke deh, aku akan menuliskan perjalananku ke Bali kemarin lalu. Cerita pertama, saat kami berkunjung ke Pantai Pandawa. Kami ke Pantai Pandawa setelah mantai juga di Pantai Kuta...hoaah...mantai teruuss... ya iyalah sekalian jalan gitu lho... Bukan bermaksud menghitamkan kulit bak bule dari manca, lha wong nggak diitemin aja sudah item sendiri... (#elus-elus kulit yang sudah eksotis).


Baru kali ini aku ke Pantai Pandawa. Pantai yang berada di Desa Kutuh Kecamatan Kutuh Selatan Kabupaten Badung ini berada di balik perbukitan. Menurut penjelasan tour guide kami, jalan menuju ke pantai ini membelah tebing kapur yang lumayan tinggi.Jadi letak Pantai Pandawa tersembunyi di balik tebing-tebing ini, makanya disebut pula Secret Beach atau Pantai Rahasia. 

Karena baru pertama kesini, ya lumayan terheran-heranlah aku apalagi saat bus kami melewati tebing-tebing tinggi yang berada di kanan kiri jalan yang panjangnya sekitar 1,5 km. Jalan ini sengaja dibuat   dengan membelah tebing-tebing kapur sehingga keberadaan Pantai Pandawa tidak tersembunyi lagi. Nah, setelah dibuatin jalan itu semakin banyak wisatawan yang datang melihat keindahan panorama Pantai Pandawa.

Melewati jalanan ini berasa dimanaaaa gitu, sayang banget kalau nggak menikmati kokoh dan angkuhnya tebing kapur itu. Ah andaikan lewat jalanan ini dengan mobil yang ada sunroof-nya pasti lebih asyiiikk... 

Di salah satu sisi tebing tersebut terdapat pahatan lima patung Pandawa dan Dewi Kunti. Tebing-tebing kapur itu dilubangi dengan ukuran yang lumayan tinggi dan dipahatlah patung tokoh Pandawa itu. Patung-patung itu seolah-olah tersimpan dalam “lemari-lemari” tebing kapur yang letaknya terpisah.

Bagi  yang tidak hafal wajah dari tokoh-tokoh dalam Mahabharata tersebut tak perlu khawatir karena di bagian bawah masing-masing patung sudah diberi nama seperti: Dewi Kunti, Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa.

Sampailah kami di lokasi parkir, dan untuk menuju ke pantai kita masih harus berjalan beberapa meter. Jalannya berpaving dan disepanjang jalan terdapat orang yang berjualan baik souvenir maupun makanan dan minuman. Ada beberapa toilet umum juga disana.

Sesampainya di pantai aku masih melihat sekeliling. Aku langsung tertarik dengan pantai ini. WOW... suasana saat itu cerah, tepatnya sore yang cerah, waktu yang pas untuk mantai. Langit biru berhiaskan awan putih yang berarak selaras dengan birunya air laut, sungguh sebiru cintaku padamu... (halllaah).

Kita juga bisa menikmati keindahan pantai ini dengan bersantai di bawah payung pantai yang dilengkapi dengan bangku panjang.

http://renidwiastuti.com/2018/03/pantai-pandawa-dengan-sejuta-cerita.html
 
Sembari menikmati debur ombak pantai kami pun berfoto ramai-ramai, bercanda dan merasakan lembutnya pasir putih di kaki-kaki kami. Tapi kami enggan untuk nyebur ke pantai, males basah-basahan. 

http://renidwiastuti.com/2018/03/pantai-pandawa-dengan-sejuta-cerita.html
chibi...chibi..
http://renidwiastuti.com/2018/03/pantai-pandawa-dengan-sejuta-cerita.html

http://renidwiastuti.com/2018/03/pantai-pandawa-dengan-sejuta-cerita.html

Suasana saat itu sangat ramai oleh wisatawan baik wisman maupun wisdom. Ada yang asyik bermain pasir putih, ada yang berenang, ada pula yang menyewa kano dan berselancar, tapi ada pula yang hanya duduk-duduk saja. Lihat foto ini, para pemuda di belakang saya itu sedang sibuk mengubur temannya dengan pasir putih.

http://renidwiastuti.com/2018/03/pantai-pandawa-dengan-sejuta-cerita.html


Biasanya wisdom  yang minta foto bersama wisman. Eh ini malah wismannya yang minta foto bersama kami. Tepatnya menawarkan dirinya untuk berfoto bersama kami (cerita nggak penting banget ih). Ceritanya mereka berdua lagi honimun, peranakan India-Canada acha...acha...acha... Lha dalah setelah foto-foto bersama mereka malah minta difotokan berdua, adegan mesra-mesraan lagi....yuhuuuuiii....

http://renidwiastuti.com/2018/03/pantai-pandawa-dengan-sejuta-cerita.html

Biar aja dibilang norak. Kalo kata Via Vallen Yo wis ben aku dibilang norak, Yo wis ben diarani katrok... (lagu Bojo Galak mode on*) Kami juga foto-foto bareng wisman dari Korea. Orangnya ramah banget bahkan terlihat excited banget kami ajak berfoto-foto. Mungkin dia berasa bak artis papan atas yang dimintain foto para fans-nya.

http://renidwiastuti.com/2018/03/pantai-pandawa-dengan-sejuta-cerita.html
Kami pun puas-puasin menikmati Pantai Pandawa ini hingga sunset tiba. Ada keindahan yang luar biasa ketika menyaksikan matahari tenggelam di balik cakrawala. Sayang aja, aku nggak pinter ngambil moment seperti ini. Kalo gini jadi mikir, kapan ya bisa belajar teknik fotografi? Iyaa, teknik fotografi pakai kamera mirrorles, DSLR, kamera ponsel. Punyanya cuma itu.

http://renidwiastuti.com/2018/03/pantai-pandawa-dengan-sejuta-cerita.html
Menjelang senja barulah kami pergi dari Pantai Pandawa ini meninggalkan sejuta kenangan dan cerita yang kuyakin tak mampu menuliskannya (apalagi kalau ditambah dengan cerita semua wisatawan yang pernah kesini, bermilyar-milyar ceritanya kali yaa)...weleh...weleh... Emang bener, kalau ke Bali pantai ini sangat sayang untuk dilewatkan. Aku aja masih pingin balik kesini lagi.

http://renidwiastuti.com/2018/03/pantai-pandawa-dengan-sejuta-cerita.html

http://renidwiastuti.com/2018/03/pantai-pandawa-dengan-sejuta-cerita.html

10 komentar:

  1. Amirotul Choiriah3 Maret 2018 pukul 07.13

    wah kereeen! terakhir ke bali tahun 2009, lama banget yak. mau kesana lagi :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Reni Dwi Astuti6 Maret 2018 pukul 20.44

      Semoga bisa ke Bali lagi ya Mba, seneng banget deh

      Hapus