Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
13 Februari 2020

Inilah Referensi Kumpulan Nama Bayi Laki-laki Sunda Beserta Maknanya

sumber : tentangnama.com


Anak Sebagai Anugerah Terindah

Anak merupakan sebuah anugerah paling indah yang diberikan Allah SWT pada setiap pasangan suami istri. Itu sebabnya, kita harus pandai-pandai bersyukur karena telah dikaruniai seorang anak. Kalau kita lihat, masih banyak pasangan suami istri yang sudah lama menikah tapi belum juga dikaruniai seorang momongan. 

Saat Allah menganugerahkan momongan tentu kebahagiaan akan terpancar dalam keluarga menyambut si kecil yang telah lahir. Bagi umat muslim, tugas orangtua pertama kali adalah mengadzani bayi di telinga kanan dan menyerukan iqomah di telinga kirinya dengan suara yang lembut. dan penuh kasih sayang.

14 November 2018

PENTINGNYA KEBERSAMAAN AYAH DAN ANAK

http://renidwiastuti.com/2018/11/pentingnya-kebersamaan-ayah-dan-anak.html

Di jaman yang serba sibuk ini, kehadiran orangtua secara intens bagi anak semakin berkurang. Apalagi bila kedua orangtua bekerja dari pagi hingga petang. Belum lagi waktu pergi-pulang ke tempat kerja yang menyita waktu.

Beruntung bagi kami yang jarak rumah dan tempat kerja tidak terlalu jauh. Aku membutuhkan waktu paling lama 15 menit untuk sampai di tempat kerja, naik speda motor dengan kecepatan 45 km/jam. Sementara suami paling hanya memghabiskan waktu separuhnya saja, 7 menit sudah sampai di kantornya. Tentulah kondisi ini kami syukuri banget.

Bagaimana tidak, saya sering membayangkan para pencari nafkah yang memerlukan waktu berjam-jam untuk sampai tempat kerjanya.Berangkat jam 5 pagi atau bahkan sebelumnya, disaat anak-anak belum bangun dari tidurnya dan tiba di rumah di saat anak-anak sudah terlelap dalam mimpinya. Yaa itulah perjuangan orangtua dalam mencari nafkah untuk keluarganya.

Lalu, kapan mereka punya waktu untuk anak-anak? Apakah mereka memiliki play time (waktu bermain) dengan anak-anak? Tentu sebagian dari mereka memanfaatkan saat-saat weekend untuk berkumpul bersama keluarga.

Bermain bersama ibu, bagi anak-anak sudah biasa. Karena ibunyalah yang mengandung, melahirkan, merawat, mengasuh dan mengurusi segala tetek bengek urusan anak-anak.


http://renidwiastuti.com/2018/11/pentingnya-kebersamaan-ayah-dan-anak.html

Bermain bersama ayah? Saya kira ini belum banyak jumlahnya dibanding yang pertama. Tentu dengan alasan yang sangat klasik, ayah sibuk bekerja. Padahal kebersamaan antara ayah dan anak sangat penting dalam tumbuh kembang seorang anak.

Ayah jangan hanya ada secara biologis saja. Apalagi para ayah yang memiliki anak perempuan. Mereka nantinya akan menerapkan standar terhadap lelaki yang kelak dipilihnya dengan melihat perilaku ayahnya sejak dia kecil.

Ayah harus hadir secara penuh, baik fisik maupun emosional. Tentu akan sangat berkurang makna dan kualitasnya saat ayah mendampingi anak tapi sibuk dengan gadget-nya.
24 Maret 2018

LAUNCHING ALBUM PERDANA SEKOLAH AL UMMAH GRESIK



http://renidwiastuti.com/2018/03/launching-album-perdana-sekolah-al.html

Hayoo...siapa yang anaknya sudah hapal dengan lagu Jaran Goyang, Bojo Galak atau Sayang? Secara lagu-lagu itu sering banget terdengar dimana-mana. 

Wuiiihhh... Bangga nggak sih kalau anak-anak sudah hapal lagu-lagu orang dewasa? Kalau saya sih ENGGAK!!! (Capslock dan tanda seru tiga biji), nggak tahu kalo Mas Anang Anda?

Ada juga lho orangtua yang bangga bila anaknya hapal di luar kepala menyanyikan lagu-lagu dewasa lengkap titik komanya, apalagi kalau anaknya bisa lolos seleksi ajang olah vokal yang di televisi.
Tanpa mereka sadari justru “kepintaran” anak-anak menyanyikan lagu-lagu dewasa justru akan menghilangkan keceriaan masa bocahnya, dia akan dikarbit untuk menjadi “lebih cepat dewasa”, bahkan dipaksa untuk menjadi pribadi yang lain (saat harus tampil menggunakan “kostum” dewasa sesuai lagunya).
11 Desember 2017

PET CARE DAY AT AL UMMAH SWEET SCHOOL



Satu bulan sebelumnya saat sosialisasi tema kepada para wali murid, ustadzah menyampaikan bahwa di akhir tema “Hewan Peliharaan” akan ada perayaan tema dimana anak-anak diminta membawa hewan peliharaannya ke sekolah. Aku pun mengajak diskusi Athiyah tentang hewan apa yang akan dibawanya nanti. 
17 November 2017

"AKU NGGAK MAU IBU TUA"

Topik ini hangat di awal-awal Agustus lalu, namun baru sempat menuliskannya sekarang. Hangatnya hanya di rumah kami aja lhoo, nggak hangat di medsos. Emang siapa saaiiiaaahh....
Topik apaan sih?
Lucu-lucu gimana gitu... Lucu tapi banyak hikmah yang bisa dipetik. Eh tapi bisa jadi menurut point of view orang lain ini sesuatu yang nggak lucu lho... Ah, sutralah.

Jadi pada bulan-bulan itu Athiyah sering banget bilang, “Aku nggak mau Ibu tua”.
Yuupp...Athiyah nggak mau ibunya menjadi tua. Doa dari anak nih, biar ibunya awet muda, ehm ehm...
25 Juli 2017

IBU, AKU PINGIN PUNYA ADIK



Beberapa hari ini Athiyah sering bilang kalau pingin punya adik. Heran juga, kenapa tiba-tiba dia sering bilang begitu. Apa karena sering lihat tetangga yang punya bayi ya... Ada dua bayi di dekat rumah, anaknya tetangga maksudnya... tapi aku nggak terlalu menanggapi permintaan Athiyah, kadang aku iya-in sambil lalu, terkadang juga aku “gantung” jawabannya. Namanya juga anak kecil...gitu pikiran dalam benakku. 

Eh suatu sore dia bilang sambil merajuk dan diulang beberapa kali. Mungkin dia merasa ibunya kok nggak perhatiin permintaannya kemarin-kemarin soal keinginannya punya adik.


“Ibu, aku pingin punya adik...” (Aku masih nggak begitu meresponnya)


31 Mei 2017

MENJADI ORANGTUA YANG DIRINDUKAN



Siapa sih yang tidak ingin menjadi orangtua yang dicintai, disayangi dan dirindukan oleh anak-anaknya?
Apakah selama ini kita sudah merasa dirindukan oleh anak-anak kita? Atau justru anak-anak merasa kurang nyaman ketika orangtuanya ada di dekatnya? Apakah anak justru merasa senang bila kita ada di kegiatan di luar rumah sehingga mereka merasa bebas melakukan sesuatu di rumah?


Tentu kita harus cari tahu jawabannya...

Mungkin untuk orangtua yang anaknya masih balita, justru anak-anak tidak mau jauh dari pelukan orangtua. Tapi ketika anak-anak sudah menginjak usia remaja apakah mereka masih ingin selalu ada di dekat orangtuanya, atau justru merasa nyaman bila jauh dari pengawasan orangtua.

04 April 2017

PENTINGNYA DUKUNGAN AYAH BUNDA DAN DANCOW ADVANCED EXCELNUTRI+ UNTUK EKSPLORASI SI KECIL



Menurut Elizabeth B. Hurlock, seorang psikolog perkembangan mengatakan bahwa anak usia 1-5 tahun mengalami pertumbuhan tubuh dan otak yang sangat pesat. Mereka mulai bisa berjalan dan melakukan aktivitas sendiri. Usia tersebut juga merupakan usia bermain, bereksplorasi dan bertanya.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas eksplorasi si kecil, antara lain membantu anak mengenal hal-hal baru, berinteraksi dengan hal-hal baru, mendukung ketrampilan sensorik motoriknya, mendukung ketrampilan berkomunikasi, dapat mengetahui perkembangan sosial-emosionalnya, kemandirian, kemampuan kognitif anak dan juga melatih kreatifitasnya.

09 November 2016

KALAU MARAH, IBU NGGAK MASUK SURGA LHO...



Siapa sih yang tidak ingin menjadi orangtua yang dicintai, disayangi dan dirindukan oleh anak-anaknya?
Apakah selama ini kita sudah merasa dirindukan oleh anak-anak kita? Atau justru anak-anak merasa kurang nyaman ketika orangtuanya ada di dekatnya? Apakah anak justru merasa senang bila kita ada di kegiatan di luar rumah sehingga mereka merasa bebas melakukan sesuatu di rumah?

Tentu kita harus cari tahu jawabannya...
Mungkin untuk orangtua yang anaknya masih balita, justru anak-anak tidak mau jauh dari pelukan orangtua. Tapi ketika anak-anak sudah menginjak usia remaja apakah mereka masih ingin selalu ada di dekat orangtuanya, atau justru merasa nyaman bila jauh dari pengawasan orangtua.

Perlu effort yang tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan bukan?
Untuk itu marilah kita terus dan terus belajar menjadi orangtua.
Tema itulah yang diangkat dalam TALKSHOW PARENTING NASIONAL 2017 yang diselenggarakan oleh Komite Sekolah Al Ummah Gresik. Bertempat di Graha Sarana PT. Petrokimia pada hari Sabtu, 8 April 2017. Acara dihadiri oleh sebagian besar wali murud dari Sekolah Al Ummah, guru-guru PG/TK serta para orangtua yang concern terhadap pengasuhan putra putri mereka.

Talkshow ini menghadirkan Ustadz Bendri Jaisyurrahman seorang muballigh, Konselor Anak, Keluarga dan Pernikahan, serta pendiri Aliansi Cinta Keluarga Indonesia.

Well... inilah beberapa rangkuman yang bisa saya tulis dari acara tersebut, semoga bermanfaat bagi diri saya sendiri dan siapapun yang berkenan membacanya.

Merupakan hal yang tidak mengherankan jika saat ini sebagian anak-anak justru lebih betah berlama-lama berada di luar rumah. Mereka lebih asyik nongkrong di cafe, mall, play station, warnet bahkan di warung kopi. Tak sedikit dari mereka yang pulang larut malam bahkan ada yang terlibat dalam tawuran.
Atau sebagian anak-anak ada di dalam rumah tapi bersikap menjadi antisosial, sibuk dengan gadgetnya dan jarang berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain padahal mereka berada dalam satu rumah. 

Pertanyaan besarnya adalah: DIMANA ORANGTUA MEREKA?

Hal-hal seperti itulah yang seyogyanya membawa kita untuk mengevaluasi diri apakah selama ini kita justru menjadi orangtua yang “dijauhi” oleh anak-anak kita sendiri.
Tidak sedikit orangtua yang merasa dirindukan oleh anak-anaknya, atau merasa ke GR-an sudah menjadi orangtua terbaik bagi anak-anaknya. Pernahkah sebagai orangtua bertanya kepada anak-anaknya misalnya, “Nak, menurutmu mama/papa itu orangnya gimana?”
Apakah anak akan menjawab, “Mama bawel, cerewet... Papa sukanya marah-marah melulu...”
Nah lho kann...

Pernah aku tanyakan hal serupa kepada si sulungku, eh jawabannya, “Ibu pelit, masak kalau anaknya minta sesuatu nggak dibelikan” atau “Masak aku disuruh belajar terus, kan pusing... Coba Ibu sendiri yang jadi aku...”
Nah berbekal jawaban itu kita bisa memberikan perhatian lebih ke anak serta menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan jawabannya, tapi bukan untuk membela dirinya yaa...

Untuk si bungsu sering aku tanya, “Dik, kalau ibu marah, adik suka nggak?”
Jawabannya, “Aku nggak suka Ibu marah, aku nggak mau sama Ibu!!!" atau "Ibu nakal kalo marah"...Dengan ekspresi ketus dan apa adanya dia menjawab, padahal saat itu aku dalam kondisi tidak sedang marah.
Bisalah dicoba untuk pertanyaan-pertanyaan lain dan mungkin kita akan tercengang dibuatnya.


Dalam mendidik dan mengasuh anak sudah menjadi kewajiban bagi kedua orangtua, baik ayah maupun ibu. Namun seringkali di masyarakat kita masih saja ada yang beranggapan bahwa ayah bertugas mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga sementara ibu bertugas mendidik dan mengasuh anak.

Pandangan tersebut ternyata perlu dikoreksi. Al Qur,an sudah memberikan panduan bagaimana menjadi orangtua hebat. Kalau berbicara tentang peran orangtua dalam Al Qur’an dialog yang terjadi antara anak dan orangtua justru yang paling banyak disebut adalah peran ayah dibanding peran ibu.

Ketika bicara tentang anak, ada 14 dialog antara ayah dan anak mulai dialog Nabi Ibrahim as – Ismail as, Ya’kub as- Yusuf as, Syaikh Madyan - anak perempuannya, Daud as – Sulaiman as,Ibrahim as dengan ayahnya, Ya’kub as dengan anaknya serta dialog Lukman dengan anaknya. Sementara dialog antara ibu dengan anak hanya ada 2 saja yaitu dialog antara Maryam dengan janinnya dan dialog antara Ibu Musa dengan anak perempuannya.

MISI ORANGTUA : MENGIKAT HATI ANAK
Ibu lebih banyak berperan sebagai “al wadud/al mawaddah” yaitu kecenderungan anak untuk ingin selalu menempel karena kasih sayang yang kuat. Inilah ibu yang sedang menjalankan fungsi pengasuhan yang biasa disebut sebagai fase emosional bonding. Ciri anak yang terikat dengan orangtuanya, merindukan kehadiran orangtua sehingga mereka akan banyak tergantung dengan orangtua. Ikatan emosi/batin seperti ini akan sangat berpengaruh bagi anak di masa depannya ketika ia menjalani masa-masa sulit meskipun orangtua tidak berada di sisinya. Dan yang harus diingat bahwa orangtua tidak mungkin selamanya akan mendampingi anak-anaknya. Anak juga lebih mandiri, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi serta menggapai cita-citanya. Nah emotional bounding yang kuat inilah yang berperan sebagai pengarah.

Sebaliknya, ketika anak tidak mempunyai emosional bonding yang baik dengan orangtuanya maka dia akan tidak mudah percaya pada orangtuanya dan lebih suka mendengar apa yang dikatakan oleh temannya, meskipun itu tidak baik baginya. Nah, disinilah saat pengaruh buruk dari luar masuk dengan mudah.
 
Makanya pada fase usia 0 – 2 tahun merupakan fase pengikatan (fase emosional bonding). Dalam Al Qur’an sangat jelas bahwa Allah memerintahkan seorang ibu untuk menyusui anaknya dengan ASI. Bukan hanya ASI yang diberikan tapi yang tidak kalah pentingnya adalah belaian yang dibutuhkan oleh sang anak. Tentu tidak hanya ibu saja yang berperan. Sang ayah pun juga harus turut menjadi aktor utama dalam keterlibatan pengasuhan anak.
Bila ada pengasuh lain babysitter atau ART misalnya, maka orangtua harus tetap mengupayakan agar orangtua tetap menjadi tokoh utama. Ini bertujuan agar ikatan yang terjalin bukan dengan babbysitter atau ART tapi tetap pada orangtuanya.

Dalam fase 0 – 2 tahun ini orangtua harus mengerahkan segala energinya baik suara, bahasa tubuh dan ekspresi muka agar terekam kuat dalam memori si anak sehingga akan memunculkan ikatan hati. Pendengaran, penglihatan dan hati harus dipenuhi haknya. Anak harus sering mendengar suara orangtuanya, anak harus sering melihat wajah orangtuanya dan anak harus merasakan bahwa dia mendapatkan kasih sayang penuh dari orangtuanya.

SINDROME "MOMMY IS MY ENEMY"
Ini merupakan kecenderungan anak yang bermusuhan dengan ibunya di usia ABG. Mereka cenderung bicara kasar dan tidak sopan pada ibunya. Ustadz Bendri mencontohkan sebuah kasus gadis X yang berperilaku sangat kasar pada ibunya, kata-kata kotor selalu diumpatkan pada ibunya. Gadis X pernah bercerita pada ustadz Bendri (cerita ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan para working mom) bahwa sejak usia satu tahun ia minum ASI perah karena ibunya sering ada tugas ke luar negeri. Ibunya berpesan pada ART di rumah itu agar selalu memberikan ASI (bukan susu formula) kepada anaknya. Tak lupa ia pun berpesan bila stok ASI hampir habis sang ART harus lapor ke sang ibu agar sang ibu bisa memerah ASI-nya dan akan dikirimkan. Sang ibu berprinsip agar anaknya harus mendapatkan ASI full selama dua tahun.

Gadis X bilang bahwa dia memang minum ASI full selama dua tahun tapi diberikan selalu dari botol. “Emangnya gue anak botolan...” itu ungkapan yang keluar dari mulutnya dengan penuh rasa kesal.

Dari peristiwa tersebut dapat digarisbawahi bahwa masih ada para ibu yang salah paham mengenai konsep ASI. Tidak hanya tercukupi ASI ke mulut anak tapi lebih dari itu anak juga butuh tercukupi belaian orangtua. Dengan seringnya tak memberikan ASI langsung dari puting dapat menyebabkan anak sehat fisiknya namun jiwanya kosong. 

Bagaimana jika ibu ada kendala dalam pemberian ASI seperti ibu bekerja, ASI kering (tidak mau keluar), si ibu sedang hamil lagi atau karena alasan medis sehingga tidak disarankan menyusui maka si anak baduta (bawah dua tahun) harus tetap sering ditempelkan pada puting sang ibu walau tiak nenen (menyusu). Hal ini bertujuan agar anak tercukupi belaian atau sentuhan sang ibu.

BUAH DARI ORANGTUA YANG DIRINDUKAN
Ketika anak-anak sudah memiliki ikatan emosional yang kuat dengan orangtuanya maka inilah hasilnya: 

  1. Anak berusaha taat meski beda keinginan.
  2. Anak tetap hormat meski dimarahi.
  3. Anak tidak menyimpan rahasia kepada orangtuanya.
  4. Orangtua dijadikan rujukan dalam nilai dan prinsip.
  5. Anak tidak betah keluyuran di luar.
  6. Orangtua dijadikan referensi dalam mencari jodoh
  PENTINGNYA KEDEKATAN AYAH DENGAN ANAK PEREMPUANNYA
Di Indonesia angka perceraian sudah sangat tinggi. 70 persen istri yang menggugat cerai suami. Kenapa? Setelah ditelisik lebih dalam ternyata hal ini lebih disebabkan oleh tidak adanya atau tipisnya emosional bonding antara ayah dengan anak perempuannya. Anak perempuan yang dekat dengan ayahnya berpengaruh terhadap 2 hal, yaitu :
  1. Tidak mudah jatuh cinta kepada sembarang lelaki saat ABG.
  2. Tidak mudah menggugat cerai suami jika sedang berkonflik. Saat berkonflik dengan sang suami dia akan curhat ke ayahnya bukan ke laki-laki lain. inilah pentingnya father bonding
Bagaimana jika terlambat melakukan emotional bonding di usia 0-2 tahun?
Tidak ada kata terlambat.
Emosional bonding masih bisa diciptakan.
Caranya dengan "peka membaca"  goldent moment. Apa itu GOLDEN MOMENT? yaitu suatu keadaan dimana anak benar-benar memerlukan kehadiran kita sebagai orangtua. ini bisa terjadi tanpa sengaja tapi bisa juga direkayasa.

Contohnya dikala anak sedang sedih dan membutuhkan kita atau pada saat anak menunjukkan prestasinya. hadirlah dengan sepenuh jiwa raga pada saat-saat itu. Jangan hanya hadir secara fisik saja.
Ketika anak sedang sedih, jadilah tempat curhatnya, jangan biarkan orang lain merebut posisi itu. Ketika anak sedang sdih sementara orangtua tidak peka maka hatinya akan semakin rapuh. Dia semakin tidak percaya pada orangtuanya dan akan mencari sosok lain yang bisa mendengarkan dia. Akan semakin berbahaya bila yang dijadikan sosok curahan hatinya adalah sosok yang tidak tepat.

Begitu juga ketika anak menunjukkan prestasinya. Misalnya ketika dia tampil dalam pentas sekolahnya seperti menyanyi, baca puisi, menari atau bahkan hanya sebagai pemeran figuran dalam drama sekolah. Meskipun kesannya remeh dan biasa tapi ini sangat penting bagi kebanggaan dirinya di hadapan orangtuanya. Berikanlah tepuk tangan yang tulus dan penuh rasa bangga pada anak. Jangan sampai tidak hadir pada acara-acara penting bagi anak demi terciptanya emosional bonding.

Ketika emosional bonding sudah terwujud dengan kuat maka sesungguhnya kita telah mendampingi anak-anak kita tercinta meski kita telah tiada.


21 Oktober 2016

SABUT SPONS SCOTCH-BRITE PILIHAN IBU CERDAS



Anak kami yang sulung kini usianya sudah hampir 12 tahun. Dia sudah kelas 6 SD. Anak seusia anak kami itu sudah seharusnya diberikan tanggung jawab yang berupa tugas-tugas tertentu dalam rumah. Yaa...mereka harus belajar membantu orangtua mengerjakan pekerjaan rumah.


Namun sebagian orangtua justru berpikir bahwa dengan memberikan pekerjaan rumah pada anak-anak malah bikin runyam saja. Belum lagi saat nyuruh mereka tidak cukup dengan sekali atau dua kali perintah. Akibatnya si ibu nih makin merasa bawel di mata anaknya.


07 Oktober 2016

PEREMPUAN DAN GENDER



Selama ini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami dengan benar perbedaan konsep seks/jenis kelamin dan gender. Bahkan penggunaan kata “KODRAT” pun masih sering salah dipahami. Seperti misalnya: memasak, mencuci baju, menyapu rumah, mengasuh anak itu adalah kodrat bagi wanita. Dengan pemahaman seperti itu akan semakin memperdalam jurang pembagian tugas domestik antara suami dan istri. Padahal tugas-tugas domestik tersebut seharusnya bisa dilakukan secara bersama-sama saling bahu membahu antara suami dan istri.
21 September 2016

MEMBANGUN KOMUNIKASI EFEKTIF DENGAN ANAK



Dari data Kemenag RI tahun 2013 diperoleh data bahwa angka perceraian di Indonesia sangat mencengangkan sekaligus memilukan, yaitu terjadinya 350.000 kasus perceraian. Itu artinya dalam satu hari rata-rata terjadi hampir 1000 kasus perceraian, atau dalam satu jam hakim mengetok palu untuk 40 kasus perceraian. 

Dengan angka yang fantastis itu memposisikan Indonesia pada ranking pertama se Asia Pasifik dalam hal tingginya perceraian. Ironis memang, di negara dengan mayoritas muslim terbesar justru tinggi pula angka perceraian.
29 Juli 2016

NANO-NANO DI #HARI PERTAMA SEKOLAH ATHIYAH


Bagaikan permen Nano-Nano, manis...asem...asin...ramai rasanya...
Begitu pula pengalaman di #Hari Pertama Sekolah bagi Athiyah yang padabulan Juli tahun ini tepat berusia tiga tahun. Yap... Athiyah mulai masuk di kelompok bermain tepatnya di KBIT Al Ummah Gresik.

PERSIAPAN SEBELUM MASUK SEKOLAH
Beruntunglah kami karena lokasi sekolah yang kami pilih begitu dekat dengan rumah kami. Jauh-jauh hari sebelum kami mendaftarkan Athiyah di sekolah ini, seringkali kami ajak bermain-main di halaman sekolahnya tiap sore. Bahkan, Athiyah sendiri yang sering minta bermain ke sekolah saat sore hari. Kebetulan di sore hari ramai juga dengan anak-anak yang sedang belajar mengaji di Islamic Centre yang masih satu lokasi dengan sekolah. 

20 Desember 2015

PELITKAH ANAKKU....

Beberapa minggu terakhir ini Athiyah sering tiba-tiba memelukku dan bilang, “Ini ibukuu...”
Begitu juga pada bapaknya, iya pun tiba-tiba memeluknya dan berkata, “Ini bapakku...”.
Ketika dia main di luar dengan temannya, tiba-tiba lari pulang masuk rumah dan melakukan hal yang sama. Suamiku heran, kenapa kok begitu? Tanyanya padaku. Ya aku jawab bahwa itu adalah hal yang wajar karena dia mulai memahami arti kepemilikan. Kalau digoda, “Ibumu tak pek...” (ibumu punyaku), dia akan spontan kesal dan menjawab, “Nggaakk... (nggaknya medok banget) ini ibukuuu...ya buu...ibuku yaa...”

Ada cerita lain lagi...
Athiyah punya teman yang usianya 4 bulan lebih tua, cowok namanya Prabu Laqief. Tiap hari mereka selalu bermain bersama. Kalau nggak di rumahnya ya pasti di rumah kami. Main di luar pun bersama-sama. Mereka selalu saling memanggil lewat pagar rumah. Bila nggak ketemu sehari saja, ributnya minta ampun, pingin main ke rumahnya, dan begitu pula sebaliknya (kata ibunya Laqief).
Namun, namanya juga anak pasti deh selalu rebutan sesuatu. Meski saban hari diberi tahu kalau main tidak boleh rebutan, yaaa tetep aja rebutan. “Ndak lebut ya...ndak lebut yaa...” kata Athiyah kalau habis diingatkan.
Athiyah termasuk anak”pemberani”. Ketika mainannya direbut, dia akan mempertahankannya. Tak jarang iya kena pukul oleh temannya itu. Kadang sampai nangis karena dipukul. Dia akan bilang, “Ini punya adik kok..., ini punya adik!!!”, katanya sambil teriak. Pun sebaliknya begitu, Athiyah juga sering mengambil paksa atau merebut mainannya Laqief. Laqief pun berusaha mempertahankannya. Kalau tidak boleh Athiyah akan mencubit atau mencakar Laqief. Dia akan mengatakan, “Adik pinjem kok..., adik pinjem...!”
Walau seringkali sudah diingatkan kalau bermain dengan teman tidak boleh merebut, mencubit atau memukul yaa tetep aja terulang lagi. Saat diingatkan pun dia akan mengulang kata-kata saya, “Dak boyeh pukul, dak boyeh cubit giniii...(sambil mencubit tangannya sendiri).”
Kelihatannya Athiyah jadi anak pelit, egois, suka main tangan... Aduuhh, pusing pala barbie...

Bagaimana nanti kalau sudah besar, masak masih seperti itu?
Eiitss...tunggu dulu... kalau kita kembali pada ilmu perkembangan anak (untungnya ibunya pernah belajar sedikit tentang psikologi perkembangan), perilaku itu masih wajar untuk anak usia batita, namun harus tetap diberi tahu mana yang baik dan tidak baik. Anak usia 2 smpai 5 tahun sudah mulai mengenal konsep kepemilikan, artinya dia tahu mana barang miliknya dan barang milik orang lain. Walau untuk Athiyah, terkadang barang milik temannya atau kakaknya diakui sebagai miliknya karena dia ingin “menguasai” barang itu. Dan itu juga masih wajar karena anak seusianya akan lebih mementingkan bahwa “barang itu milikku” daripada “barang itu milikmu”. Mengapa demikian? Ya kita harus kembali lagi bahwa anak usia batita mempunyai sidat egosentris. Mereka tidak tahu barang itu miliknya atau bukan. Ia hanya mau tahu barang itu miliknya. Makanya mereka sering rebutan mainan.  Kemampuan kognitifnya masih terbatas, dia cenderung menganggap semua adalah miliknya, ibuku, bapakku, mainanmu, bonekaku, dsb. Mereka masih sulit untuk menempatkan diri dalam sudut pandang orang lain. Seperti misalnya, ketika Athiyah melihat balon, ia akan langsung memainkannya, karena menurutnya balon itu miliknya dan ia berhak menggunakannya tanpa peduli itu balon milik siapa. Ia juga tidak peduli apakah nantinya yang punya balon marah atau tidak, karena di sudut pandangnya anak yang punya balon akan sama senangnya dengan dirinya saat main balon.

Kakaknya pun sering kesal, bahkan marah-marah, katanya, “Adik egois. Adik ngrebutan...”
Kadang karena sama-sama tidak mau mengalah, bertengkarlah mereka sampai salah satu atau keduanya menangis. Kalau sudah begitu, aku harus memberikan pengertian kepada keduanya.
Namun, tidak sepenuhnya Athiyah “se-egois” itu. Karena beberapa kali dia sudah bisa mulai “mengerti” bahwa barang itu tidak selalu miliknya. Sebagian anak batita pun adayang sudah bisa memahami konsep kepemilikan dengan lebih baik. Dia tidak hanya mengerti mana barang miliknya dan mana barang milik orang lain. Dia pun merespon bila ada orang lain mengambil/memakai barang yang bukan miliknya. Dalam hal ini, Athiyah sering “memarahi” kakaknya karena menggunakan hp ibu atau bapak. Katanya, “Kakak jangan, itu hp ibuk...” (dan dia pun sering mengambil/merebut hp tersebut lalu memberikannya padaku. Atau juga dengan sisir rambut, “Ini sisil ibu...” atau “Mana sisir ibu, adik pinjam sisil ibu”.

Hal-hal seperti itu sebenarnya merupakan awal dari kemampuan anak memahami orang lain. Lalu bagaimana anak bisa dikatakan sudah memahami konsep kepemilikan? Bila si anak sudah mengetahui mana barangnya dan mana barang orang lain. Lalu minta ijin tanpa merebut tentunya bila ingin meminjam barang. Dengan demikian egosentrismenya mulai berubah. Dia mulai mampu memahami sesuatu darisudut pandang orang lain. Tugas orangtua selanjutnya mengasah hal tersebut agar lebih baik lagi.
Sementara untuk anak yang belum terlalu paham dengan konsep kepemilikan aku biasanya mengatakan sesuatu sesuai pemiliknya, misalnya ini sepatu kakak, tolong ambilkan baju bapak, pinjam dong bonek adik, dll. Ketika ada temannya yang main bersama selalu diajarkan agar Athiyah meminjamkan mainannya ke anak tersebut...(ini sih kadang boleh, kadang juga nggak boleh sama Athiyah). Tak lupa juga dengan membiasakan minta ijin dulu kalau ingin meminjam sesuatu. Dalam hal ini kadang aku bilang ke kakaknya, “Kak, kalau adik nggak minta ijin jangan dipinjami yaa...” (mesti terkadang ini gagal juga karena keburu ngrebut sambil nangis). Dan juga beri pujian setiap anak sudah minta ijin, seperti, “Nah gitu, anak baik minta ijin dulu...”
Memberi contoh dengan perilaku kita sehari-hari harus kita lakukan juga, misalnya, “Kak, ibu pinjam pulpennya dong...” atau. “Adik ibu pinjam mainannya dong...”

Sekali lagi, memang kita harus sabar, telaten dan konsisten serta memberikan keteladanan pada anak-anak kita.
05 Oktober 2015

KETIKA IBU BERANGKAT BEKERJA


Ketika Athiyah sudah mulai “mengerti” ketika ditinggal, ada beberapa cara yang aku lakukan, menyesuaikan kondisi Athiyah pada saat itu. Sebagian cara itu, sebenarnya menurut teori tidak baik. Tapi mengapa masih aku lakukan? Yaaa... itu tadi, ketika kondisi yang kurang memungkinkan. Itu sih alasanku saja ...karena sebenarnyakondisi itu bisa diciptakan.
Reaksi Athiyah ketika aku pergi (terutama bila berangkat kerja). Di usia sebelum 20 bulan masih sering menangis mau ikut, meski sebelumnya sudah aku siapkan waktu sebentar untuk bersamanya termasuk memandikannya sehingga akupun sering pergi dengan diam-diam....nah ini  nih yang tidak baik...


Mengapa anak usia batita (termasuk Athiyah tentunya) tidak mau berpisah atau lepas dari orangtuanya? Perilaku ini wajar-wajar saja, karena di usianya itu dia masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang  dari orang terdekatnya, terutama orangtua. Selain itu, anak juga belum memahami mengapa orangtuanya pergi, mengapa dia nggak diajak, dll.

Kita ingat, dari bayi anak sudah mengembangkan bonding/kelekatan dengan orangtua terutama ibu yang banyak terlibat dalam pengasuhan anak sehari-harinya seperti menyusui, menyuapi, menggendong, memandikan, menidurkan dan tetek bengek lainnya.Tapi sebagian anak justru dekat dengan ayahnya. Tapi kayaknya sih paling banyak ya dekat dengan ibunya.  Saat itu anak mengembangkan rasa percaya pada orang-orang terdekatnya. Ia merasa nyaman dengan orang-orang terdekatnya. Makanya ketika ditinggal, anak batita cenderung menangis dan minta ikut.

Namun sekitar usia 21 bulan, seiring dengan kemampuan kognitif dan bahasanya Athiyah sudah mulai jarang menangis saat ditinggal. Memang aku terus sounding Athiyah bahwa ibu bekerja Athiyah di rumah bersama mbak Hana, tantenya, nanti Ibu pulang ketemu Athiyah lagi. Itu terus aku lakukan, meski aku nggak tahu dia sudah paham atau belum, tap i lama-lama akhirnya Athiyah mengerti juga. Memberikan penjelasan semacam itu penting  banget agar anak merasa lebih nyaman dan yakin bahwa ibu hanya pergi sementara dan akan pulang. Meskipun anak masih belum mengerti pada awalnya, namun lama-lama dia akan ngerti juga sesuai perkembangan kemampuan berpikirnya.


Di usia 23 bulan, apalagi habis mandi pagi, terus aku pakai bedak dan lipstik Athiyah sudah otomatis bilang, “Ibu ija, adik umah, Bapak ija, kakak uyah...” (Ibu kerja, adi di rumah, Bapak kerja, kakak sekolah...). selalu begitu. Bahkan sore habis mandi pun ketika aku di depan kaca sambil pakai bedak Athiyah mengira aku akan bekerja. Jadi sampai sekarang ketika aku pakai bedak dan lipstik itu bagaikan sebuah kode bagi Athiyah bahwa aku akan pergi kerja, hehehe... Kalau sudah gitu tentu aku bilang padanya, “Nggak, sekarang ibu tidak kerja, tapi mau main bersama adik...”

Selain memberikan penjelasan pada Athiyah tentang “kepergian” itu, biasanya aku sempatkan waktu sebentar bersamanya atau istilahnya ritual kali yaa... Athiyah senang kalau diajak keluar rumah sehingga setelah bangun tidur aku ajak dia keluar menikmati udara pagi hanya di depan rumah saja nggak jauh-jauh. Biasanya sambil melihat kucing, atau lihat orang-orang lewat saja. Nggak lama sih... tergantung rentang waktu yang aku punya saat itu. Biasanya sebelum mandi pagi, saat dari luar mulai sambil dibujuk/diajak mandi, terus dibilanginkalau habis mandi main dengan Laqif (tetangga yang seumuran dengannya), atau nanti naik sepeda/kereta dengan mbak Hana, dan lain lainnya sehingga dia lebih siap untuk ditinggal.


Selalu muluskah?

Kadang gagal juga, tapi jarang-jarang gagalnya. Gagal biasanya kalau akunya juga agak nampak tergesa-gesa. Namun, kegiatan itu kadang skip juga saat waktunya mepet banget dan kadang nggak tega membangunkan Athiyah, atau saat Athiyah lagi nggak enak badan.

Tapi terkadang juga saat Athiyah nggak rewel, aku pergi tanpa pamit (sekali lagi, waktunya mepet sehingga harus gas pol saat naik sepeda motor). Mengapa? Karena meski dia nggak rewel terus aku pergi, dia pingin nenen dulu...lha ini yang sulit untuk dipercepat. Dia akan merengek, “inum uyuuu...” (minum dulu) dan perkiraanku justru dia akan menangis...jadi agar tidak merusak moodnya pergilah aku dengan diam-diam. Kata tantenya, kadang dia nyari-nyari aku ke kamar mandi, ke depan, ke mushola... ini yang bikin kasihan kalau nggak dipamiti. Sebenarnya hal ini tidak baik karena bisa jadi setelah anak mencari-cari dan tidak menemukan ibunya, bisa-bisa akan semakin “nempel” kemanapun ibu pergi. Dan itu terjadi juga pada Athiyah...ada suatu saat aku ke kamar mandi pun dia ngikut...hufff...jangan ditiru ini yaaa...

Tapi menjelang usia 2 tahun, Athiyah jarang menangis kala ditinggal. Aku pamiti dia salim dan da da da da .... sambil berkata, “Ibu ija, adik umah...”

“da da... da da... mmmuaachh...”

Tapi kadang juga nggak mau salim, kadang juga nggak mau da da tapi anaknya nggak nangis, hanya ngeliatin aja... Athiyah sudah nyaman dengan tantenya karena tantenya sangat telaten dengan Athiyah, bahkan tiap hari diajak naik kereta atau didorong jalan-jalan naik sepeda kecilnya.


Di lain waktu saat aku berangkat kerja Athiyah di teras atau di depan rumah bersama tantenya, atau bersama bapaknya (aku berangkat kerjanya lebih dulu, sementara suami ngantor jam 8. Tempat kerjanya juga lebih dekat,hanya 10 menit dari rumah).
24 Juli 2012

KETIKA ANAK BERBOHONG


Kejadian ini sudah terjadi beberapa waktu yang lalu. Berawal ketika aku mau meminjam alfa link – nya Kayla. Alfa link itu kami belikan untuk menunjang proses belajar bahasa Inggrisnya, baik di sekolah maupun di tempat lesnya. Itu juga sebagai reward dari kami agar Kayla lebih bersemangat lagi belajar bahasa Inggrisnya, mengingat pada Starter 1 dan Starter 2 dapat predikat THE BEST STUDENT.
Singkat cerita, saat itu Kayla nampak ogah-ogahan (menghindar) menjawab, katanya, “Nanti aja lah, Bu...”
Saat itu aku belum curiga. Aku pikir dia lagi males aja ambil di tempatnya. Hari berikutnya aku mau pinjam lagi, tapi Kayla nge-les lagi. Kali ini nge-lesnya tidak dengan kata-kata tapi dengan ungkapan yang jelas.
            Suatu saat aku cari sendiri di beberapa tasnya dan juga di rak-rak bukunya. Aku sudah mulai curiga kenapa Kayla selalu menghindar dan sering berusaha mengalihkan pembicaraan setiap aku tanya tentang Alfa Link-nya. Aku pikir mungkin Kayla lupa naruhnya di tas yang mana, soalnya Kayla sering ganti-ganti tas kalau ke sekolah.
            Aku tetap belum menemukannya. Beberapa hari berlalu, dan tentang Alfa Link sudah mulai terlupakan karena fokus pada UKK (Ulangan Kenaikan Kelas) yang tinggal 2 hari lagi. Ketika UKK sudah berlalu, aku pun menanyakan kembali, tapi Kayla tetap memberikan jawaban yang tidak jelas. Hingga suatu hari, aku menanyakannya lagi (karena penasaran banget, kok Kayla tidak biasanya seperti ini)
“Kayla, dimana Alfa Link-nya, ibu mau pinjam? Hilang ta?”
“Enggak...” (sambil bermain dan tidak melihatku)
“Kalau nggak hilang, terus dimana? Ibu mau pinjam”
Aku semakin curiga melihat ekspresi wajahnya.
“Hilang ya...?” (Akhirnya aku bertanya dengan penuh selidik..., penyidik kaleee...)

Suamiku yang ikut mendengar percakapan kami pun akhirnya ikut nimbrung.
“Dipinjam temanmu ta?”
“Iya...”
“Siapa yang minjem?” (tanyaku semakin penasaran dengan melihat ekspresinya)
“Tia....eh bukan Tia... Shirly....”

Sang emak semakin curiga nih dengan jawaban yang tidak pasti.
Aku pun mengulang jawabannya dan memastikan siapa yang meminjam.
“Tia atau Shirly...?” (agak tegas nih nanyanya....menginterogasi nih ceritanya)
“Shirly... Shirly....eehhh....”
“Pinjamnya kapan? Sudah lama?”
“Sudah...”

Suamiku pun menimpali lagi, sepertinya dia nggak curiga seperti aku karena dia nggak tahu cerita sebelumnya.
“Kalau dipinjam teman boleh aja, tapi jangan lama-lama. Atau kalau temannya pinjam nggak usah dibawa pulang ke rumahnya, cukup saat di sekolahan aja”

Kayla diam saja.

Aku pun bilang ke Kayla sekaligus untuk menguji kejujurannya, aku sudah curiga kalau ada yang tidak beres alias Kayla berani berbohong untuk hal ini.

“Besok Kayla bilang ke Shirly, diminta Alfa Link-nya karena untuk belajar di rumah, apalagi 2 hari lagi kan mau liburan...”

“Iya...iya... “ katanya dengan tidak pasti.
“Bener lho ya, besok diminta ke Shirly...” (kataku berusaha meyakinkan Kayla).

Karena aku masih belum yakin dengan Kayla, aku pun menambahkan,

“Atau ibu bilang ke Bu Nida (gurunya Kayla) agar dibantu mengingatkan Kayla besok...”

Dengan spontan dan ekspresi tidak berkenan Kayla pun menjawab,

“Jangan, Bu.... Jangan bilang Bu Nida.”

Eskalasi kecurigaanku semakin tinggi.
“Lho maksud ibu biar besok dibantu Bu Nida kalau Kayla nggak berani nanyain ke Shirly...”
(Dugaanku yang lain mulai muncul kalau kemungkinan Kayla dapat ancaman temannya berkaitan Alfa Link nya)

“Jangan, nggak usah.... Bener lho, ibu jangan bilang ke Bu Nida.... Iya besok Kayla minta...”

Habis itu Kayla main game di laptop. Sementara itu, aku membicaraknnya dengan suami tentang “keanehan” perilaku Kayla itu. Tidak biasa-biasanya dia seperti itu. Suamiku menduga mungkin Alfa Link nya direbut temannya di sekolah dan tidak berani bilang kepada kami maupun gurunya. Namun aku tidak yakin, karena kalau pun misalnya direbut temannya, pasti ada teman-teman dekatnya yang membantunya atau lapor ke gurunya. Kalau dugaanku, alfa link itu hilang dan Kayla takut mengatakannya.

Setelah beberapa waktu berlalu aku tiduran di kamar sambil membaca sebuah buku. Kayla ikut masuk dan ikut tiduran di sebelahku. Aku pun punya inisiatif untuk membicarakan tentang keberadaan Alfa Link itu. Aku ingin mengajaknya bicara dari hati ke hati barangkali ia mau terbuka dan mengatakan yang sesungguhnya.

“Kayla, bilang sama ibu, bener ta alfa link nya dipinjam Shirly?”
“Mmmm.... bukan kok Bu, bukan Shirly yang pinjam...” katanya dengan suara pelan dan memelas.
“Terus siapa?”
Ya temanku, tapi nggak di sekolah.”
“Teman dimana?”
“Di EH (English House, tempatnya les).
“Lho tadi katanya teman sekolah, kok sekarang teman EH?.... Siapa namanya yang pinjam?”

Dengan sangat lirih kayla mengatakan, “Laras...”
“Bener ta Laras yang pinjam?”
“Bener nggak hilang?” tanyaku memastikan.
Kayla diam saja, sehingga aku menyimpulkan dengan kata yang tegas, “Mmm...itu pasti hilang!”

“Kayla bilang yang sebenarnya sama ibu. Ceritakan kalau hilang kejadiannya dimana?”

Kayla pun merespon, “kalau hilang gimana, Bu?”
“Kalau hilang ya Ibu bantu nyari. Makanya Kayla cerita, hilangnya dimana? Kalau di sekolah Ibu bisa minta bantuan bu guru, kalau di EH ibu bisa minta bantuan miss yang ada disana barangkali ada yang menemukannya. Makanya Kayla jujur sama ibu. Ibu nggak suka kalau bohong. Makanya Kayla jujur sama Ibu...kalau bohong nanti nggak jadi beli PSP aja...”

Beberapa saat kemudian, kayla mulai terisak-isak.  Aku nggak tahu nih, menangisnya karena takut kalau kami marah atau karena ada “ultimatum” dari aku bahwa nggak jadi beli PSP.
Untuk sementara aku biarkan dia terisak-isak sampai dia reda sendiri.

Kemudian setelah itu, tantenya mengajaknya keluar beli pulsa. Tantenya pun menanyakan kenapa Kayla menangis. Aku ceritakan dengan singkat kejadian tadi.

Sepulangnya dari beli pulsa, tanpa sepengetahuan Kayla, tantenya cerita sama aku bahwa tadi di perjalanan dia berinisiatif menanyakan kejadian tadi pada Kayla dimana sebenarnya alfa link nya. Singkat cerita, ternyata Kayla menyembunyikannya karena ada bagian yang rusak/patah. Dan Kayla takut kalau ketahuan bapak, takut dimarahi.

Aku pun tergelak seketika mendengarnya. Tantenya pun menyarankan agar kayla terus terang saja sekarang. Tantenya pun berusaha meyakinkan bahwa tidak akan dimarahi. Kayla pun berjanji besok harinya mau terus terang. Aku ceritakan semua itu pada suamiku, dan kami pun tak menduga Kayla sampai segitu “takutnya” sampai dia pun berbohong.

Aku pun menunggu esok harinya dengan penuh penasaran. Apa yang akan dikatakan Kayla besoknya...

Alhamdulillah, Kayla pun akhirnya berterus terang dengan wajah malu-malu. Kami pun menjelaskan pentingnya jujur apapun yang terjadi. Dan bahwa kita harus berani menanggung resiko terhadap semua perbuatan yang kita lakukan....